Skip to content
gold

Kenapa Harga Emas Turun di Tengah Eskalasi Konflik di Selat Hormuz?

Meski dianggap aset pelindung nilai saat perang, emas justru turun ke $5.078/oz setelah rekor tertinggi. Dominasi dolar AS dan aksi jual institusional jadi penyebab utama.

Fenomena menarik terjadi di pasar emas: di tengah eskalasi konflik besar di Selat Hormuz, harga emas justru bergerak turun ke kisaran $5.078 per troy ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di pekan pertama bulan ini. Ini bertentangan dengan persepsi umum bahwa emas selalu naik saat terjadi perang.

Faktor utama di balik penurunan ini adalah penguatan tajam Dolar AS. Indeks DXY melonjak seiring meningkatnya permintaan likuiditas global untuk transaksi minyak mentah yang harganya terus melambung. Karena emas dipatok dalam dolar, penguatan dolar membuat emas menjadi jauh lebih mahal bagi pemegang mata uang asing, sehingga menekan permintaan internasional.

Di sisi lain, jatuhnya bursa saham global akibat kekhawatiran perang memicu aksi jual emas oleh lembaga keuangan besar. Fenomena ini dikenal sebagai 'forced selling' — investor terpaksa mencairkan simpanan emas mereka guna menutupi kerugian di portofolio aset berisiko atau memenuhi kewajiban margin call. Ini adalah pola yang juga terjadi saat awal pandemi COVID-19 di Maret 2020, ketika emas sempat turun tajam sebelum akhirnya rally besar.

Langkah antisipasi terhadap inflasi energi juga membuat pasar berekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini mengurangi daya tarik emas yang tidak menghasilkan imbal hasil bunga, dibandingkan obligasi pemerintah atau simpanan dolar yang kini menawarkan yield menarik.

Para analis memandang pergerakan ini sebagai fase konsolidasi dan aksi ambil untung setelah kenaikan masif di awal tahun. Bagi investor emas jangka panjang, penurunan seperti ini justru bisa menjadi peluang akumulasi — dengan catatan, selalu gunakan strategi dollar-cost averaging dan jangan alokasikan seluruh portofolio ke satu aset.

GoldDollarConflictInterest RatesInvestment

Tonton video lengkap di YouTube

Dapatkan penjelasan visual yang lebih detail

Artikel Terkait